Jumat, 21 November 2014

Tips Mencari Banyak Pahala

'siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.' HR. TIRMIDZI

Tips memberi 'sedikit' namun 'mengambil' banyak pahala :

1. Bagi2 sirup, gula, teh.  Tiap buka pasti yg pertama minum. Nah, jika kita membagi gula ke 10 rumah dan di rumah itu ada 2 saja yg berpuasa, kita dapat pahala dari 20 orang. Itu 1 hari, kalau kita memberi setengah kilo gula bisa untuk 5 harian. Jadi 5*20= 100 orang. Lumayan kan?

2. Bagi2 kurma, snak. Berbuka dgn Kurma adalah sunah. Jadi kita juga dapat pahala menyiarkan sunah. Snak ringan biasanya juga di makan setelah minum.

3. Silaturahim ke rumah orang2 sholeh. Tentu saja dengan membawa oleh2 di atas. Jadi kita pun kebagian pahala dari orang2 sholeh tersebut.

Selamat berbagi

Kemenangan Hakiki

Sebuah analog yg disampaikan oleh seorang anak kecil dalam ajang pemilihan da'i cilik, sungguh menggelitik.

"teman2 tahu ayam betina kalo mau bertelur? Dia berkotek2 seharian, kesana kemari. Seakan-akan ia ingin semua org tahu kalo ia mau bertelur. Saatnya bertelur cling.. Sebutir telur ia keluarkan. Lalu ia berkotek kesana kemari lagi.

Beda dengan kura kura. Ketika mau bertelur ia keluar dr lautan dalam diam. Bergerak perlahan, membuat lubang di pantai dgn tenang. Lalu cling.., ratusan telur ia keluarkan. Masih dalam diam ia kembali ke lautan."

begitu pun manusia, ia bisa memilih jadi ayam atau kura2.

Kemenangan hakiki adalah ketika kita mampu tetap berkontribusi pada sesama, meski caci maki, hujatan ditimpakan. Tetap bersinar meski angin berusaha memadamkan.

Selamat menjadi kura2 dalam hening, dalam tenang dalam diam.

#kemenangan hakiki

Indahnya Saling

seorang bijak mengatakan, ketika datang nasehat padamu kemudian hatimu merasa, berbahagialah itu tandanya hati kita belum mati.

Menerima dan melaksanakan nasehat akan jauh lebih baik daripada menolak bahkan menutup diri.

Atau bahkan menjadi melankolis dan bersenandung dalam hati.. '..coba kau lihat dirimu dahulu, sebelum kau lihat kurangnya diriku..'

namun baiknya cukup diingat..  'kaburo maqtan 'indallah an taquulluu maa laa taf'aluun' (amat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yg tidak kamu kerjakan) QS. Shaff :2

Untuk yang dinasehati husnodzon, yg menasehatinya sudah melaksanakan atau setidaknya berusaha menjadi seperti yg dinasehatkan.

Untuk yang menasehati, takut kalo hanya OMDO (Omong Doang) akan mendapat murka dari Allah. Maka ia berusaha melakukan juga apa yang dinasehatkan.

Cukuplah kisah Abu Bakar sbgai teladan. Suatu hari Abu Bakar ditanya seorang sahabat, "wahai Abu Bakar, apa pahala memerdekakan budak?"  Abu Bakar hanya diam dan meninggalkan orang tersebut. Kesempatan kedua sahabat bertemu Abu Bakar lalu bertanya, "wahai Abu Bakar apa pahala memerdekakan budak?" Abu Bakar diam dan pergi. Dikesempatan ketiga sahabat itu bertanya lagi, "wahai Abu Bakar apa pahala memerdekan budak?" kali ini beliau menjawab, "ia lebih baik dari dunia dan seisinya" "mengapa baru engkau jawab sekarang?" tanya sahabat itu. "karena baru kemarin saya memerdekakan budak" subhanallah..

Begitulah seharusnya

Indahnya saling percaya itu

Ingin Tiap Hari di Doa'kan Malaikat?

Ketika pertanyaan itu diajukan pada kita, pasti dengan cepat kita akan menjawab, "ingin". Siapa sih yang tidak kepingin didoakan makhluk Allah yang tanpa dosa? Yang pastinya doanya lebih didengar daripada kita yang berlumur dosa.

Lalu bagaimana caranya?
Bersedekahlah tiap hari. Karena pada pagi hari ada 2 malaikat yang datang pada kita untuk mendoakan orang yang bersedekah dan juga mendoakan orang yang kikir.

"ketika seorang hamba berada pada waktu pagi 2 malaikat akan turun kepadanya, lalu salah satu berkata, "ya Allah, berilah pahala kepada orang yang menginfakkan hartanya." kemudian malaikat yang satu berkata, "ya Allah, binasakanlah orang2 yang bakhil" (mustafaq'alaih)

nah, mau pilih didoakan yang pertama atau yang kedua? Pasti yang pertama kan?

Yang jadi ganjalan infak tiap hari apa bisa ya? Sedangkan keuangan pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan.
Kenapa tidak bisa? Kita tetap bisa berinfak, bersodaqoh tiap hari dengan sekemampuan kita.

Caranya? Buat kotak infak diletakkan dirumah atau di meja kerja. Tiap pagi hari kita masukkan misal 1 000, 2000 atau lebih. 'Hanya' dengan uang receh yang ketika jatuh dijalan tidak kita sesali itu kita bisa memancing untuk didoakan memperoleh berkah oleh malaikat.

Menerapkan prinsip ekonomi, modal sedikit untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya.

Allah tidak menetapkan dan melihat jumlah sedekahnya. Tapi niat, usaha dan ikhtiar dari hambaNya.

Ayo tunggu apalagi...

Tempat Sampah Terbesar di Dunia

Joke itu kubaca di buku kumpulan dongeng dan cerita berbahasa Inggris dulu sekali waktu SMA. Julukan itu diberikan pada Indonesia.

Tidak terima sebenarnya, namun itulah kenyataannya. Kemana mata memandang yang ada sampah berserakan.

Belum adanya kesadaran menjaga lingkungan dari warga semakin memperparah keadaan. Juga pemerintah yang tidak mendukung dengan aturan dan perundang-undangan. Sebagai contoh Malaysia ada polisi yang khusus memantau kebersihan. Tugasnya memberi sanksi bagi orang yang membuang sampah sembarangan.

Untuk membiasakan peduli pada lingkungan harus kita budayakan sejak kecil. Agar kesadaran tertanam mendalam dan menjadi kebiasaan. Bukankah islam cinta kebersihan?

Pembiasaan yang bisa kita lakukan :
1. Membuang sampah pada tempatnya
ajarkan pada anak-anak kita untuk selalu membuang sampah pada tempat sampah.
Meski setiap hari kita harus mengingatkan.

2. Letakkan tempat sampah dimana saja
semakin banyak tempat sampah tersedia, semakin baik. Jadi tidak ada alasan orang membuang sampah sembarangan karena tidak ada tempat sampah.

3. Menyimpan sampahnya sementara, jika tidak ada tempat sampah
meski pembungkus permen, meski selembar tisu.
Jika tidak ada tempat sampah bukan berarti kita bisa membuang sampah sembarangan. Masukkan dulu bungkus permennya dalam saku, simpan dulu tissu kotornya di tas. Nanti jika ada tempat sampah baru kotoran itu kita buang.
Juga ketika di dalam mobil. Kita letakkan dulu di tas kresek, baru nanti kita buang ke tempat sampah. Bukan kita buang disepanjang perjalanan.

4. Menjadilah contoh pada anak-anak kita
bagaimana kita menyuruh anak-anak membuang sampah pada tempatnya jika kita sendiri membuang bungkus permen, tissu kotor sembarangan?

Semoga kesadaran itu semakin berkembang dan tak ada lagi sebutan 'tempat sampah terbesar di dunia'

Profil Anak Asuh Baitul Maal Kami

Untuk saat ini aku adalah anak satu-satunya dikeluargaku. Sejak kecil aku tinggal bersama kakek, nenek dan ibuku. Bapakku entah aku tak tahu. Sejak kecil ia pergi meninggalkan kami.

Beberapa tahun ini kakek sering kali bersikap aneh. Suka berdiam diri atau kadang-kadang bicara sendiri. Mungkin kakek depresi memikirkan aku dan ibuku. Otomatis kakek tak lagi bisa bekerja ke sawah seperti dulu.

Aku merasa tidak berbeda dengan anak-anak seusiaku. Aku hanya tidak mampu mengeluarkan kata-kata untuk menyampaikan apa yang ada dipikiranku. Sebenarnya aku sudah berusaha, tapi orang-orang tetap tak paham akan ucapanku.

Dua tahun lalu ibuku yang menjadi tulang punggung keluargaku sakit. Katanya sakit tumor. Meski bukan tumor ganas karena dibiarkan selama bertahun-tahun ia tumbuh semakin besar. Alhamdulillah ada bantuan kesehatan gratis sehingga tumor sebesar bola kaki (5 kg) diperut ibuku bisa diangkat.

Sejak saat itu kesehatan ibu tidak bisa pulih seperti dulu. Namun ibu tetap bekerja, membantu tetangga yang membutuhkan bantuan tenaga.

Saat ini pun ibuku sakit. Sudah berbulan-bulan batuk tidak kunjung reda. Tapi tak pernah kulihat ia mengeluh. Tiap hari tetap saja bekerja.

Aku ingin terus sekolah. Belajar agar menjadi pintar. Agar kelak aku bisa membantumu. Lihat bu, kini aku bisa menulis namaku sendiri. Bisa lebih jelas memanggilmu.
Tetaplah kuat dan sehat bu. Aku sangat menyayangimu.

Jundiku hampir Hilang

Peristiwa ini terjadi sekitar 5 tahun yang lalu.

Siang itu kami ingin membelikan mas hasan sepeda. Karena yang dibelikan sepeda mas hasan maka yang kami ajak ke kota untuk membeli adalah mas jundi. Agar mas jundi senang diajak jalan-jalan. Gilirannya membeli sepeda masih tahun depan.
Kira-kira usia mas jundi waktu itu 4tahun.

Turun dari sepeda motor mas jundi digendong abi memasuki sebuah toko sepeda. Saya pun langsung melihat-lihat sepeda yang ada. Saya kaget saat melihat mas jundi tidak bersama abi. Kemana mas jundi?

Abi berpikir turun dari gendongan mas jundi ikut saya. Padahal tidak. Saya panik. Spontan saya lari keluar. Abi dan penjaga toko mencari di dalam toko.

Naluri seorang ibu, saya berlari ke utara. Setelah mencari-cari dari jauh terlihat mas jundi cebak-cebik mau nangis sambil mulutnya menyebut 'ummi' (sampai sekarang ekspresi wajahnya masih teringat).

Langsung saya berlari mengejarnya. Jaraknya 2 toko besar. Dan kurang sedikit lagi dia sampai jalan pertigaan yang ramai kendaraan.

Subhanallah.. Alhamdulillah.. Kupeluk dan kucium mas jundi sambil menangis. Mas jundi pun baru bisa menangis sambil memeluk saya erat sekali. Saya rasakan ketakutannya. Dan tidak saya pedulikan orang-orang yang memperhatikan kami.

Bayangan macam-macam sempat terlintas tadi. Bagaimana kalo tadi mas jundi dibawa orang, atau sampai pertigaan yang ramai kendaraan.
Terima kasih ya Allah masih Kau lindungi mas jundi.

Sampai sekarang rasa bersalah itu masih ada jika mengingatnya.
Mulai saat itu kalo mengajak anak-anak kami selalu berhati-hati, takut peristiwa itu terulang kembali..